| Grafik dalam buku Polarity Process |
parasmu:
muara payau yang
beriak
sepenak saat
badan kuceburkan
namun arus menghapus
begitu cergas
dan kita terpaut
lidah laut
berlayar dan
karam dari karang ke
karang
pelabuhan memang memancing lambai
namun tak akan membuat terlepap
percayalah, sebab kini hati kebal
menolak mabuk, muka kian lembam
maka berangkatlah, tak usah
mengangan pulang, sebab seiring berkemas
kau kehilangan rumah dengan sekilas
kura-kura menanam
telur di perut pasir
tanpa cemas,
santun ke laut lepas
ia begitu
percaya, di antara
yang niscaya
termangsa
satu-dua butir akan
pecahcangkang
menyisir rambut air
untuk apa mengharap siul angin sebagai
penggerak layar, sebab sulurnya kini, tak lebih
jari penyibak poni ketika kita duduk-duduk
di tepi kapal, kita memiliki mesin yang kekar
dan liar punggung gelombang hanyalah
dongeng pembakar bagi kaki yang
belajar menempuh jalan
aku
nelayan gentar:
tergesa mengayun tongkang
melempar
jala di lubuk ikan
kau lubuk geram:
dengan
mata nanap
kita meremas pinggul ikan
yang
meronta
menggelepar keras
seperti hendak terlepas
ke dalam cakar ombak
yang menyambar ganas
asmara sememar ikan yang
terjatuh dari paruh camar
(nyaris terkecap, bebas
terjun untuk sebentar
menggelepar)
segegas ludah yang dimuntahkan
pantat kapal (saat melengking
meninggalkan pelabuhan)
2009
Koran Tempo, 16 Mei 2010
Koran Tempo, 16 Mei 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jika anda ingin, anda boleh meninggalkan komentar.