Sabtu, 15 Oktober 2011
Rabu, 12 Oktober 2011
KEJORA
ia karam di sana, berkedip-kelip
mengirim tanda kepada mata
atau mengajukan tanda-tanda balasan
sebagai pertanyaan kepada kabarnya
bagi mata, ia karib sedemikian cemerlang
begitu dekat, hingga lupa mengapaia mengibas-ngibaskan ekor cahaya
serupa anjing menyambut tuannya
Selasa, 11 Oktober 2011
BERBAGI MELALUI PUISI
Saya, penulis, masih memiliki 26 eksemplar buku puisi Desis Ular dari 100 eksemplar yang diberi oleh pihak penerbit (Dewan Kesenian Lampung) sebagai milik saya.
Desis Ular sendiri merupakan buku kumpulan puisi pertama saya yang hampir seluruhnya terpublikasi di Koran Tempo, Kompas, dan Lampung Post (beberapa puisi di dalamnya saya terakan di blog ini). Buku kumpulan puisi ini (tanpa sedikitpun bermaksud meninggikan dagu), saat ini, masuk ke dalam 10 besar (long list) tahap pertama penjurian Khatulistiwa Literary Award 2011 kategori puisi. Dan Wallahualam untuk tahap penjurian kedua: 5 besar (shorlist). Mengingat ia dinilai bersama-sama buku kumpulan puisi para penyair yang telah lama bergelut dibidang kepenulisan dan atau perpuisian, yang sulit diragukan kemahirannya dalam berkarya. Untuk informasi lebih terang lihat tautan berikut: Longlist KLA 2011.
Saya memiliki gagasan untuk menjual ke 26 buku milik saya tersebut dan memberikan seluruh hasil penjualan buku tersebut kepada lembaga amal: Lampung Peduli; Lembaga yang mengurusi zakat, infaq, dan sedekah, serta penyalurannya. Sebagian (50%) sedekah dari saya dan sebagian lagi (50%) sedekah dari teman-teman yang suka bermurah hati mau membeli buku tersebut. Untuk informasi mengenai Lampung Peduli, periksa tautan ini: Lembaga Lampung Peduli.
SEPATU LAMA

mereka melindungi kakiku dari dekil, beling, tahi ayam
atau lain gangguan, ketika cahaya bulan berpendaran
dari daratan, tampak semacam kilau cawan: keemasan
penghujung minggu gegas berkemas, hari-hari seranum hijau pipi anggur
gemas--menetas di pojok bibir, manis: tanpa rasa was-was
helai-helai tanggalan, runtuh
tanpa butuh lingkaran merah
(yang melulu cemas)
tanda awas pada yang siap menyergap
bersembunyi, menanti mahluk
di puncak mabuk:
absen pada riak rupa sendiri
ia ingin istirah, alasnya terkelupas
wajahnya pecah
TUNAWICARA
bila sekadar decak-kecap
tiada lagi sanggup
ditanggung langit-langit lidah
heninglah
genap kilap kilat
dan getar guruh
dilontarkan selisih awan
kilau batang-batang air
sempurna tertuang
DESIS ULAR
perempuan di tepi petang
menggenggam payung
terkurung pecahan hujan
dan cembung lambung
di ekor mata
ia sembunyikan linangnya
pada lengkung angin
ia hamburkan butiran kaca
dengan putik yang mekar
bukitnya memendam nektar
mual menanggung letusan
ia mendendam bakal ular;
mesti dibenamkan
di sembarang selokan
danau, sungai, genangan
atau apa saja yang cukup dalam
untuk menenggelamkan ingatan
Senin, 10 Oktober 2011
BUNGA PASIR
bangkai tak tergenggam
debu di telapak tangan
dari sela jari musafir
lolos mengalir
selicin bulir air
sekejap berdiri, berpusar menari
lalu pergi seolah tak terjadi
Langganan:
Komentar (Atom)


