Selasa, 11 Oktober 2011

DESIS ULAR




perempuan di tepi petang
menggenggam payung
terkurung pecahan hujan
dan cembung lambung

di ekor mata
ia sembunyikan linangnya
pada lengkung angin
ia hamburkan butiran kaca

dengan putik yang mekar
bukitnya memendam nektar
mual menanggung letusan
ia mendendam bakal ular;

mesti dibenamkan
di sembarang selokan
danau, sungai, genangan
atau apa saja yang cukup dalam
untuk menenggelamkan ingatan


temukan lokus yang lengkap:
lotus mekar di pusar kolam
angin sepoi, udara sembab
ranting melambai dan
daun-daun berloncat pelan
dari tangkai

ingatlah
ketika kususupkan lidah api
ke dalam liang di balik semakmu
tubuhmu terguncang
lembab lembah
mata air melimpah
di pepori ia ruah

putih getah dari kelenjar
yang mengendap di taringku
kujangkarkan ke pusat pinggulmu

alir darah dari pipa
di bawah kulitmu berdesir
denyut waktu gugur
dari detik nadimu
ketika nikmat geliat tubuhmu mengilap
meliuk—berpendar serupa sisik di tubuhku
tajam mata api berkobar dari perutmu
desis di ujung lidahku
segenap desah di pangkal lidahmu

tak cukup sekedar ditenggelamkan
ia tetap gembur membelukar
di dasar ingatan


terjunlah ke dasar kolam

cerai dari sintal tubuhmu
yang cemar oleh bisaku

lunaskan dendam
lekatkan benci
di bebutir debu

pejamkan mata
hiruplah sepenuh dadamu
suburlah anak-anakku

2009
Tempo, edisi 28 Juni 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika anda ingin, anda boleh meninggalkan komentar.