Minggu, 08 Maret 2015

DI KULIT BATANG RANDU

Perkebunan Randu Siluwuk (1927)





















asmara
mungkin bersemayam
di sebatang pohon randu, sebagai dua nama
tertoreh di kulitnya

di antaranya ada yang lerai
seperti randu, merelakan rindu
daun
dipetik angin berhelai-helai,
yang keras-kepala menggenggam ranting
pada tangkai
suatu waktu, rapat jeruji hujan mengguyurnya
ada kalanya kilau petir menyambar
merobohkan batang randu
berkilat-kilat, menerangi nama sepasang manusia
buah apel dan anak panah tajam yang ditatokan,
berceraian
berserakan
terkelupas bersama kulitnya

terseret arus, timbul-tenggelam di hitam selokan
mengendap
terurai--larut di lingkar air
menguap
ke perut awan
bersama bentakan guruh, terjun
menderas ke arah seorang lelaki yang mematung
kehilangan arah di antara bulir-bulir hujan
terserap ke gigil iga
merembes ke dasar telaga
di bawah pelipis di sisi lengkung alis
menitis
membeku di kelopak bibir ungu
menggerakkan jari lampai yang biru
memahat pusara bagi dua nama
di kulit batang randu suatu waktu
di simpang gang
di jantung kota yang berdetak kencang
ketika asmara
melesat
keluar loka

tersesat
ditatap dingin
delapan mata angin

2008 
Diterbitkan: Koran Tempo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika anda ingin, anda boleh meninggalkan komentar.