Senin, 09 Maret 2015

POHON BUDI





















bertahun telah ia mencoba menafsir sehelai mimpi.
bagaimana bulat menanggapi lengkung edar bola api.
timbul-tenggelam dari tempatnya berdiri, timur ke barat
tak lain: dalam kabut bayangan berkelebat, berkelana
dari lutut ke siku ke sudut mulut.

karenanya ia awas mencermati: membuka dan menutup
jendela cahaya: biji mata. atau karena biji mata yang kerap
berputar maka tingkap cahaya tertutup dan terbuka, lalu ia
menandai setiap celah yang terkuak bagi peristiwa, jalan masuk
api dan cahaya.


pagi;

lentik kelopak putik melerai menjadi mahkota, lalu seperti
peri melepas sekumpulan sekoci para sari berlayar
membawa sekumpulan peti ke tempat ombak angin ingin menepi
dan bila genap merapat ke mahkota lain, maka cukuplah
penanda bahwa mereka umpama penduduk kampung yang diterima
dengan sukacita. mungkin serumpun buah kelak terbit
menjangkau cahaya.  

simpang pagi dan siang;

kuku api merambat, sebagaimana penanak ia mewariskan
alasan matang, dan ia adalah pencerai yang kejam bagi yang
enggan berai pada apa yang disangka erat tergenggam. dan
bagaimanapun, matang berarti  mengumpulkan dan menanggalkan.
seumpama pembakar tembikar: menggauli peluh dan lumpur,
menyisih akar, pasir, kerikil, serpih kayu dan yang lain selain
lempung. serupa tembikar yang terpanggang, ia tak
ingin terlalu mentah, tak hendak hangus dan retak, terlampau
menggebu hingga gagal menakar tanak.
 
siang;

puncak mata menegaskan hari, beribu butir air beringsut menyusut
berupaya meloloskan diri dari mulut-mulut daun. daun, mesti
pandai menahan rapat rahasia, meralat bibir, atau hangus
terlontar berduyun-duyun. disergah angin, berpusing kasar
atau berayun-ayun dengan lantun.

cabang siang dan petang;

percik-percik reruntuhan, sisa yang diabaikan usai pertempuran. sejauh mata
memandang hanya sunyi membubung dan berputar-putar, melayang
umpama nasar gusar menyambut bangkai. nafas geram mendengus
menanti apa yang terbuka, denyut bisul menjelang letus.

petang;

padang menguap panjang, menarik diri dalam selimut ke arah kelam,
ia memandang berbagai mahluk pulang ke sarang, sebelum langit membenamkan
merah ke dalam malam, rumput bergoyang. ia merasa terpagar pemandangan
bergetar, serupa terkurung dalam agar-agar.

antara petang dan malam;

angin dingin mengganas, di setiap tempat ia melihat daun-daun gegas berkarat,
dari waktu ke waktu buah hijau berlomba masak. berkeriput: runtuh, tanpa
sempat meneguhkan biji sebagai peti yang genap mengandung kidung
hikayat. dari janji yang beribu-ribu jatuh, hanya beberapa yang pandai
mengoyak tanah, memanjat tumbuh.   

malam;

seekor burung hantu semenjak lama menghuni lubang dadanya.
seringkali mengagetkannya dengan kuk-kuk yang nyaring. tanda
sekumpulan waktu mati berdenting, berlalu pergi, dan seperti pelayat
menyaksikan isi keranda ditanam dan lebur berkali-kali, berkali-kali pula
ia pecah, hidup dan mati.

batas malam dan pagi;

burung-burung pagi berlompatan ke arah benang matahari.
telur-telur air menetas di daun, menetes ke tanah seperti liur.
dari kedalaman tungkai-tungkai hijau mejulur, mencecap cahaya
dan udara. tanah marak, seperti ratusan kelambu tidur yang terbuka

hingga ia terkejut, berbisik pada dirinya
betapa duka-bahagia
bukanlah bunyi
dari suatu kata.

maka ia
membuka pori
menyambut gelap

menyerap cahaya

terhimpun, seberkas demi seberkas
menitis tak kentara
seperti mata embun
menempa keningnya.


2010
Diterbitkan: Kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika anda ingin, anda boleh meninggalkan komentar.